Notifikasi

Memuat…

Desa Trunyan, Tradisi Pemakaman Unik di Bali

 Desa Trunyan, Tradisi Pemakaman Unik di Bali

Desa Trunyan, Tradisi Pemakaman Unik di Bali

Bali yang terkenal dengan keindahan alam dan budayanya memiliki sebuah desa unik bernama Trunyan. Desa ini merupakan salah satu desa tertua di Bali yang masih menjaga tradisi nenek moyangnya, salah satunya adalah tradisi pemakaman yang disebut Mepasah.

Mepasah adalah tradisi pemakaman di mana mayat tidak dibakar atau dikubur, melainkan didiamkan begitu saja di alam terbuka. Tradisi ini hanya dilakukan untuk masyarakat Desa Trunyan yang sudah menikah atau anak-anak yang giginya telah tanggal. Uniknya, meskipun diletakkan di alam terbuka, mayat mepasah tidak mengeluarkan bau busuk karena adanya pohon taru menyan yang mengeluarkan aroma wangi.

Selain tradisi Mepasah, Desa Trunyan juga memiliki dua lokasi pemakaman lainnya, yaitu Sema Bantas dan Sema Nguda. Sema Bantas digunakan untuk proses pemakaman yang dikubur, sedangkan Sema Nguda bisa digunakan untuk kedua proses pemakaman tersebut. Pemakaman dengan cara dikubur dilakukan untuk masyarakat yang meninggal karena penyakit, bunuh diri, kecelakaan, dibunuh, atau anak kecil yang belum tanggal giginya.

Sejarah Tradisi Mepasah

Konon, tradisi Mepasah berawal dari kisah empat pemuda yang terhipnotis oleh bau harum pohon taru menyan dan tiba di Desa Trunyan. Sulung dari empat bersaudara tersebut jatuh cinta pada dewi penunggu pohon taru menyan dan menikahinya. Dari pernikahan tersebut, mereka membangun sebuah kerajaan di Desa Trunyan.

Pada masa kepemimpinan pangeran sulung yang diberi gelar Ratu Sakti Pancering Jagat, tradisi Mepasah mulai digunakan. Raja merasa bahwa harum dari pohon taru menyan cukup berbahaya untuk desa. Sehingga dia memutuskan untuk setiap mayat yang meninggal dengan syarat tertentu tidak lagi dikubur melainkan dibiarkan begitu saja.

Sejak saat itu, bau wangi dari taru menyan tidak terlalu menyengat. Sedangkan dalam waktu yang bersamaan, mayat yang diletakkan pada batu di sekitar pohon tersebut juga tidak membusuk.

Cara Menuju Desa Trunyan

Desa Trunyan terletak di tepi Danau Batur, Kintamani. Untuk menuju ke desa ini, wisatawan dapat menyewa perahu dari dermaga Kedisan dengan biaya sekitar Rp100.000 untuk satu perahu yang bisa membawa hingga 5 orang. Perjalanan dari dermaga ke Desa Trunyan hanya memakan waktu sekitar 30 menit.

Kesimpulan

Desa Trunyan merupakan salah satu destinasi wisata unik di Bali yang sayang untuk dilewatkan. Tradisi pemakaman Mepasah yang masih dijaga hingga saat ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk berkunjung ke desa ini.

Baca Juga
Posting Komentar